Maret 26, 2009
Pameran Jakarta Biennale 2009

Poster Jakarta Biennale 2009
Jakarta Biennale adalah Pameran Seni Rupa yang diselenggarakan di Jakarta sejak tahun 1968 dan terakhir diadakan pada tahun 2006 yang merupakan perhelatan seni rupa dua tahunan dan telah diadakan sebanyak 13 kali. Pada awalnya (1968) pameran ini diselenggarakan dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia dan bertempat di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM). Sejarah pameran ini dimulai setelah berdirinya Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), Dewan Kesenian Jakarta, dengan komite seni rupa yang terdiri Oesman Effendi, Zaini, Satyawati Sulaiman-ketiganya pelukis-menganggap perlu untuk memperjuangkan karya-karya seni lukis. Mereka menyelenggarakan pameran seni rupa pertama yang cukup besar. Sekitar 35 seniman muda ikut memamerkan karya-karyanya: Agus Djaja, Arief Soedarsono, Baharuddin MS, Kusnadi, Mochtar Lubis, Oesman Effendi, Otto Djaja, DA Peransi, Srijani, Sindudharsono Sudjojono, Trisno Sumardjo, Zaini, Achmad Sadali, But Muchtar, G. Sidharta, Muchtar Apin, AD Pirous, Srihadi Sudarsono, Popo Iskandar, Affandi, Abbas Alibasjah, Amri Yahya, Bagong Kussudiardjo, Fadjar Sidik, Nasjah Djamin, Rusli, Wardoyo, Widayat. Nama-nama mereka kini telah mengisi lembar-lembar sejarah senirupa Indonesia.
Ada dua perbedaan pokok antara Biennale Jakarta sebelumnya dengan Jakarta Biennale 2009, yaitu walaupun memiliki sejarah yang cukup panjang, baru tahun 2009-lah pameran ini bersifat internasional dengan banyak partisipasi seniman dari luar negeri dan kali ini disandingkan dengan berbagai kegiatan dari berbagai cabang seni, dalam suatu kerangka lebih besar yang disebut “ARENA”. Meskipun telah memiliki sejarah yang cukup panjang dan dikenal di kalangan pelaku dan pecinta seni, pameran ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum di Jakarta. Oleh karenanya, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ ) periode 2006 -2009, dengan komite seni rupa yang terdiri dari Marco Kusumawijaya (arsitek, ahli tata kota), Bambang Bujono (pengamat seni), Ade Darmawan (perupa dan pengajar), M. Firman Ichsan (jurufoto dan pengajar) mencoba untuk menghadirkan JB ‘09 dalam bentuk yang berbeda. Tema ARENA dipilih untuk mencoba menengarai kembali persoalan-persoalan seni rupa, masyarakat dan pergeseran makna ruang-ruang di kota dan menggarap tiga zona yang berbeda. Selain menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang berorientasi pada intervensi seni rupa di ruang-ruang publik, DKJ kali ini memercayakan salah satu bagian akhir dari rangkaian kegiatan JB‘09 ARENA kepada Agung Hujatnikajennong untu menjadi kurator bagi sebuah pameran berskala internasional dengan judul Zona Cair.
JB ‘09 ARENA dimulai dengan beberapa kegiatan seni yang menghampiri masyarakat melalui Zona Pemahaman dan Zona Pertarungan. Pada dua zona ini diharapkan adanya partisipasi—bukan saja dari masyarakat Jakarta sendiri, tetapi juga dari para seniman, desainer, arsitek yang menggarap proyek-proyek seni publik seputar realita kehidupan kota (Jakarta) khususnya. Demikian halnya, selain akan dihadirkan di Galeri Nasional, pameran Zona Cair, juga akan menghadirkan beberapa pameran di ruang publik seperti beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta—sebuah terobosan baru yang memang tidak dilihat pada pameran-pameran JB sebelumnya. DKJ merasa bahwa perkembangan kota yang sedemikian pesat, serta semakin luasnya kota Jakarta yang belum diiriingi dengan kemampuan mobilitas masyarakat yang tinggi, telah mempersulit akses masyarakat kepada seni rupa. Sehingga tiada jalan lain untuk menghadirkan seni dengan cara menghampiri para (calon) peminatnya.
JB ‘09 ARENA kali ini memberanikan diri untuk menhadirkan karya karya para perupa dari berbagai negara. Keputusan ini ditempuh untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat, baik publik seni maupun masyarkat umum. Sebuah pameran berskala internasional dapat membantu kita untuk lebih mengenal kebudayaan bangsa lain, dan secara lebih khusus lagi: bagaimana perkembangan seni rupa dunia bisa diperbandingkan dengan karya-karya seniman dari tanah air.
JB ‘09 ARENA ingin mengupayakan kegiatan-kegiatan yang diharapkan bisa meningkatkan apressiasi masyarakat pada seni rupa melalui keterlibatan mereka secara aktif. Tentu, hal ini merupakan tantangan besar. Berbagai program edukasi publik seperti lokakarya, diskusi dan seminar diupayakan merengkuh segmen masyarakat yang berbeda-beda. Terselengaranya berbagai bentuk presentasi dalam rangkaian kegiatan JB ‘09 ARENA dirancang demi tercapainya komunikasi yang baik antara seniman dengan masyarakatnya. Namun, JB‘09 sudah pasti bukan tanpa kekurangan. Namun berbagai upaya telah dilakukan agar bentuknya sesuai dengan perkembangan masyarakat terkini.
Berikut merupakan beberapa karya dalam Jakarta Biennale 2009 :

“Belanda Sudah Dekat!” , by Wimo Ambala Bayang
2009
digital photographs
100 cm X 100 cm
Ini merupakan karya Wimo Ambala Bayang yang terinspirasi percakapan “Belanda sudah dekat!” yang berasal dari film Serangan Fajar (1981) karya sutradara Arifin C. Noer. Dalam film tersebut, “Belanda sudah dekat!” menjadi semacam jargon yang digunakan para pejuang untuk memompa semangat perlawanan. Perkataan tersebut, bagi orang-orang yang segenerasi dengan Wimo, menjadi sangat akrab dan bermakna, bahkan sering ditiru ketika melakukan permainan perang-perangan sewaktu mereka kecil. Oleh karenanya ada unsur nostalgia maupun sejarah yang kental dan humor dalam karyanya, karena dalam sesi foto tersebut, ia ‘mempersenjatai’ para model yang antara lain kelompok seniman teater, keluarga petani, kelompok penggemar film Jepang (seperti foto di atas), para punkers, penggemar olah kebugaran, dan yang lainnya dengan pistol air dan berpose layaknya prajurit perang yang bersiaga menanti musuh. Dengan karyanya, Wimo member muatan ‘propaganda’ untuk generasi muda agar selalu siap menghadapi situasi ‘penjajahan’ dalam bentuk apapun di negeri ini.

“A Day in The Life of The Other” , by Lyra Garcellano
2007
Assorted toy soldiers, wooden plnk
variable dimension
Karya Lyra Garcellano berangkat dari salah satu masalah social yang sering ia tangani-pemberian stereotype atas orang-orang Filipina (Lyra tinggal dan bekerja di Manila,Filipina-red) yang menyangkut masalah identitas, persepsi, dan kesadaran diri. Dengan menampilkan miniature angkatan perang yang dipenuhi campuran prajurit dan petempur dari berbagai bangsa dan era, Lyra mempertanyakan ide tentang ‘liyan’- dalam hal ini mengacu kepada bagaimana suatu masyarakat mendefinisikan diri dalam kaitannya dengan bangsa-bangsa Eropa, menyiratkan sejenis tindakan pembentukan stereotype atau ketertundukkan – yang secara signifikan berhubungan dengan berubahnya sifat kolonialisasi dari masa lalu sampai masa kini, di mana sebentuk Erosentrisme yang mendefinisikan bagaimana masyarakat (maupun Negara-negara) yang dulu terjajah memandang diri mereka sendiri. Ia menekankan pada pentingnya untuk sadar penuh mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, dan untuk mengenali dampak kejadian-kejadian tersebut pada kesadaran masa kini.

“Java’s Machine: Phantasmagoria” , by Kuswidananto A.K.A. Jompet
2008-2009
Kinetic multimedia installation comprising video, recycled electronic devices, drums, resin, and video projection
Variable dimension
Jompet adalah salah satu seniman muda Indonesia yang sampai saat ini produktivitas dan inovasinya belum tertandingi oleh rekan-rekan segenerasinya dalam hal pemanfaatan perangkata elektronik daur-ulang untuk karya-karya video, objek, dan instalasinya. Kali ini ia mengangkat ritual untuk mengawali proses pengolahan tebu menjadi gula pada abad XIX, ketika bangsa Belanda memperkenalkan mesin untuk pertama kalinya ke dalam kehidupan petani yang disalurkan secara unik lewat olahan media video, bunyi, dan objek-objek kinetic secara artistik yang secara cerdas mempersoalkan berbagai batasan konsep sosial-budaya, menjelajahi rapuhnya batas antara kenyataan dan ilusi; yang material dan yang immaterial; antar wujud trimatra yang diam dan bergerak dinamis; antara yang mekanis dan yang magis; antara ‘Jawa’ dan ‘non-Jawa’.

“(Re)Collection of Togetherness – Stage 4” , by Tintin Wulia
2008
Mixed media installation compromising passports, wooden base
Variable dimension
Karya (Re)Collection of Togetherness – Stage 4 ini merupakan pengembangan tahap keempat dari proyek Tintin yang dimulai sejak 2007. Instalasi ini diwujudkan melalui 132 buah paspor buatan tangan yang dikerjakannya satu persatu dengan cara menjahit kertas-kertas kosong. Di dalam paspor ia mengimbuhkan bangkai-bangkai nyamuk yang mati mati terhimpit hingga darahnya membentuk banyak noda. Paspor-paspor palsu Tintin dibuat sebagai jalan masuk untuk menjelajahi persoalan identitas negara-bangsa yang masih menyiratkan kerawanan, ketegangan, dan ketidakpastian. Dengan berbagai situasi global hari-hari ini, sangatlah sulit untuk menetapkan identitas sebagai sesuatu yang final dan ajek. Paspor adalah konstruksi artifisial yang tak pernah netral dari kepentingan kuasa. Ia tak pernah bisa memberikan kejelasan tentang dari mana kita berasal, dan mengapa kita punya bahasa, warna kulit, dan agama.

“Antara Monas, Pengunjung, dan Fotografer” , by Daniel Kampua
Monumen Nasional, Jakarta Pusat
Monumen Nasional (Monas) adalah kebanggaan Indonesia dan Jakarta. Banyak pengunjung yang mengabadikan diri berlatarkan Monas dengan memanfaatkan fotografer keliling dan dengan pose-pose unik, lucu, dan aneh; ada yang seolah memegang puncak Monas, bahkan ‘menyalakan’ rokok dengan api Monas. Dalam karya ini, Daniel Kampua menunjukkan bagaimana orang merasa bangga, tak berjarak, dan membentuk persepsi mereka sendiri atas Monas yang mereka kenal. Ia bekerja sama dengan para fotografer keliling tersebut untuk berfoto dan mengadakan pameran bersama sehingga tercipta hubungan antar Monas, pengunjung, dan fotografer melalui sebuah pameran foto.
Maret 3, 2009
Tinjauan Desain I
Art and Craft Movement
Art and craft movement adalah gerakan menolak kehadiran tanaga mesin yang menggantikan tenaga manusia dengan cara menghidupkan kembali ketrampilan tangan manusia dalam kriya(kerajinan tangan) dan seni.
Gerakan ini terjadi di Inggris, Kanada, dan Amerika pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 tepatnya pada tahun 1880 hingga 1910.
Art and craft movement memberikan kesan kembali ke periode gothic, roccoco, dan renaisans. Salah satu ciri utamanya adalah karya seni dibuat secara individu oleh seniman dengan sentuhan artistik yang khas. Setiap karya digarap dengan serius dan teliti.
Salah satu ciri utamanya adalah karya seni dibuat secara individu oleh seniman dengan sentuhan artistik yang khas. Setiap karya digarap dengan serius dan teliti.
Tokoh-tokohnya antara lain John Ruskin, William Morris, T.J. Cobden Sanderson, Walter Crane, Nelson Dawson, dan Phoebe Anna Traquair.
Gerakan ini ingin menampilkan reformasi sosial ,peduli terhadap kehidupan buruh, dan ingin menghasilkan barang indah dengan harga terjangkau oleh orang banyak meskipun akhirnya mendapat kritik bahwa barang yang dihasilkan malah mahal dan hanya bisa dijangkau orang kaya.
Karya Art and Craft Movement :

Potret William Morris oleh George Frederic Watts, pada 1870.

“Artichoke” wallpaper, oleh John Henry Dearle untuk William Morris & Co., tahun 1897 (Victoria and Albert Museum).

Red House di Upton, Bexleyheath terletak pada selatan timur kota London,Inggris dan merupakan kunci perkembangan Art and Craft Movement pada abad 19, terutama pada bidang arsitektur.
Art Deco
Art Deco adalah gerakan desain Internasional yang populer pada tahun 1925 sampai 1939 yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri, maupun seni visual seperti misalnya fesyen, lukisan, seni grafis, dan film.
Art Deco dipengaruhi oleh aliran kubisme, fauvisme, serta gaya Mesir dan Indian Aztec.
Popularitasnya memuncak pada 1920-an. Meskipun banyak gerakan desain mempunyai akar atau maksud politik atau filsafati, Art Deco murni bersifat dekoratif. Pada masa itu, gaya ini dianggap anggun, fungsional, dan ultra modern.
Tokoh-tokohnya antara lain Joseff Hoffman, Adolf Loos, Frank Lloyd Wright, Aleksandra Ekster, dan Francisco Salamone.
Gerakan awal ini disebut Style Moderne. Istilah Art Deco diambil dari Eksposisi 1925, meskipun baru pada 1960-an istilah ini diciptakan, ketika terjadi kebangkitan kembali Art Deco.
Karya Art Deco :
Walter Dorwin Teague

“Beau Brownie” camera for Eastman Kodak.

Kodak Bantam Special

Bagian ujung menara Chrysler Building di New York, yang bergaya Art Deco, yang dibangun pada tahun 1928-1930.

“The Musician”, dengan cat minyak di atas kanvas oleh Tamara de Lempicka, tahun 1929.

Poster propaganda perang oleh Jean Carlu untuk pemerintah Amerika pada tahun 1942.

City at Night, tahun 1919, oleh Aleksandra Ekster.

Alkira House yang merupakan bangunan bergaya Art Deco di Kota Melbourne, Australia yang didesain oleh James Wardrop yang dibangun pada tahun 1936.

Gedung Capitol Theatre di Melbourne, Australia dengan arsitek Walter Burley Griffin yang selesai dibangun pada 1924.
Art Nouveau
Art Nouveau ( berarti seni baru) adalah sebuah aliran seni yang memiliki gaya dekoratif tumbuhan atau flora yang meliuk-liuk.
Aliran ini muncul mulai tahun 1819 hingga menjelang 1914 (menjelang World War I) di Eropa dan Amerika yang mencapai puncaknya pada tahun 1890 hingga 1905.
Di Eropa aliran ini memiliki beberapa nama antara lain: Judgenstil (di Jerman), Vinna Secession (di Austria), Stile Liberty (Italia), Modernista (Spanyol), dan Glassgow School (di Inggris).
Aliran ini diterapkan pada karya seni, arsitektur, furnitur, ilustrasi buku, dan aneka perabot logam dan barang cetakan.
Tokoh-tokohnya antara lain: Gustav Klimt, Charles Rennie Mackintosh, Alfons Mucha, Rene Lalique, Antoni Gaudi dan Louis Comfort Tiffany.
Art Nouveau sebagai reaksi akan industrialisasi dan gaya mesin yang dianggap menghilangkan sifat manusiawi dalam seni dan pembuatan barang-barang kebutuhan manusia sehingga penerapan motif dekoratif flora dibuat cenderung berlebihan untuk memberi penekanan akan ketrampilan yang sifatnya sangat emosional.
Pada awalnya Art Nouveau dimaksudkan untuk menjadi seni populer yang dapat dinikmati orang banyak, namun pada penerapannya lebih banyak pada barang-barang untuk konsumsi orang kaya.
De Stijl
de Stijl atau dalam Bahasa Inggris the style adalah gerakan seni di sekitar tahun 1920an.
De Stijl diambil dari nama majalah seni Belanda yang didirikan oleh tokoh-tokoh de Stijl, antara lain Piet Mondrian, Theo van Doesburg, Vilmos Huszar, Bart van der Leck, Gerrit Rietveld, dan Robert van’t Hoff.
Konsep ini berkembang seiring terjadinya perang dunia pertama yang berlarut-larut. Komunitas seni de Stijl kemudian berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru di dalam seni.
Konsep ini diwujudkan dalam pemikiran utopia. Mereka mewujudkan abstraksi dan keuniversalan dengan mengurangi campur tangan bentuk dan kekayaan warna semaksimal mungkin.
Dalam kebanyakan karya seni, garis vertikal dan horisontal tidak secara langsung bersilangan, tetapi saling melewati satu sama lain. Hal ini bisa dilihat dari lukisan Mondrian, Rietveld Schröder House, dan Red and blue chair.
de Stijl meredup seiring perpecahan di antara Theo van Doesburg yang aplikatif dan Piet Mondrian yang teoritis. Hingga akhirnya majalah de Stijl terakhir kali terbit untuk mengenang kematian Theo van Doesburg.
Karya De Stijl:

Trees, 1912 Composition with Gray
and Light Brown, 1918

Composition in
Red, Yellow and Blue
1922
Futurism
Futurisme adalah suatu paham dari beberapa orang atau sekelompok orang yang percaya atau yakin akan adanya masa mendatang yang lebih baik, dalam arti lebih modern, lebih konkrit, bahkan diyakini bahwa manusia akan mampu menguasai jagad raya dengan tehnologi yang dimilikinya nanti.
Gerakan Futurisme diproklamirkan pada tahun 1909 oleh seorang penulis dan penyair Italia, Filippo Tommaso Marinetti. Futurisme adalah sebuah gerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama dalam abad ke-20 yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas.
Futurisme banyak mempengaruhi bidang kesenian seperti: seni lukis, seni patung, seni musik, desain dan arsitektur. Futurisme juga berpengaruh pada perkembangan tipografi. Selain itu futurisme yang memanfaatkan tipografi banyak dipakai dalam mengungkapkan perasaan dalam berpuisi.
Futurisme ini muncul dari situasi yang ditimbulkan akibat Perang Dunia I, dengan tujuan meninggalkan kenangan pahit, nostalgia, pesimistis, kemudian melepaskan materi-materi, elemen-elemen, dan nilai-nilai lama.
Tokoh-tokohnya Filippo Umberto Boccioni, Tommaso Marinetti, Giacomo Balla, Gino Severini, Fornunato Depero, Carra, Antonio Sant’Elia, Luigi Russolo.
Kemunculan Futurisme dapat terlihat pada tahun-tahun awal abad ke-20, sebuah esay pada tahun 1907 yang berjudul “Entwurf einer neuen Ästhetik der Tonkunst” (Sketch of a New Aesthetic of Music) oleh penggubah Italia, Ferrucio Busoni, disebut-sebut sebagai titik awal yang sebenarnya. Futurisme merupakan gerakan besar dari Italia dan Rusia, walaupun ia juga mempengaruhi negara-negara lain, contohnya Inggris.
Karya Futurism:

The City Rises (1910),
Umberto Boccioni

Unique Forms of Continuity in Space (1913),
Umberto Boccioni
Bauhaus
The Bauhaus masters on the roof of the Bauhaus building in Dessau. From the left: Josef Albers, Hinnerk Scheper, Georg Muche, László Moholy-Nagy, Herbert Bayer, Joost Schmidt, Walter Gropius, Marcel Breuer, Vassily Kandinsky, Paul Klee, Lyonel Feininger, Gunta Stölzl and Oskar Schlemmer
Bauhaus yang berasal dari kata Bauen (to build / mengembangkan atau membangun) dan Haus (rumah).
Bauhaus adalah sebuah aliran (gaya) arsitektur yang didirikan oleh Walter Gropius pada tahun 1919. Pelopor International Style dan mengenalkan konsep “form follows function”, yaitu bentuk bangunan mengikuti fungsi yang ada pada bangunan tersebut. Bauhaus memiliki pengaruh besar terhadap arsitektur dunia. Hal ini diperlukan tipe baru seniman dari akademik khusus. Untuk mencapai tujuan ini, pendiri, Walter Gropius, melihat perlunya mengembangkan metode pengajaran yang baru dan Ia berpendapat bahwa dasar untuk setiap seni itu dapat ditemukan di pengrajin.
Bauhaus sebenarnya adalah sekolah yang didirikan oleh para seniman, diberi istilah “Rumah Gedung” atau “Gedung Sekolah” adalah istilah yang umum untuk Staatliches Bauhaus, sebuah sekolah di Jerman yang mengkombinasikan kriya dan seni murni, dan untuk pendekatan ke desain yang dipublikasikan dan diajarkan.
Pada tahun 1923, Bauhaus bereaksi merubah program nya,dengan motto: “art and technology – a new unity”. Potensi industri yang harus diterapkan untuk memuaskan standar desain, baik mengenai aspek estetis dan fungsional.
Sebelum kelahiran Bauhaus didahului dengan terbentuknya Deutscher Werkbund pada 9 Oktober 1907 di Munchen, Jerman, yang digagas oleh 2 (dua) arsitek, Theodor Fischer dan Hermann Mutheseus.
Deutscher Werkbund adalah nama kelompok diskusi yang terdiri dari seniman muda, arsitek muda, penulis muda, pengrajin muda dan kalangan industri.Mereka ingin mencari solusi untuk meningkatkan kualitas produk-produk desain Jerman. Selain itu, diskusi ini juga mengarah pada usaha melepaskan diri dari idiom-idiom desain konservatif yang telah berkembang di daratan Eropa, termasuk Jerman selama berabad-abad.
Akibat perbedaan ideologi, pada 1914 Deutscher Werkbund terpecah dua, menjadi kelompok Typisierung yang dipimpin Peter Behrens dan Mutheseus serta kelompok Kunstwollen yang dipimpin oleh Henry van de Velde, Hugo Haering, Hans Poelzig dan Bruno Taut. Arsitek muda Walter Gropius termasuk dalam kelompok Kunstwollen yang pada akhirnya mendirikan Bauhaus di kota Wiemar, Jerman, pada 1919. Kota Wiemar adalah sebuah Acropolis (Negara-Kota) berbentuk republik yang baru saja berdiri.
Sekolah ini berdiri di tiga kota dalam negara Jerman, diantaranya adalah di Weimar dari 1919 – 1925, di Dessau dari tahun 1925 – 1932, di Berlin dari tahun 1932 – 1933 ) dibawah penanganan tiga direktor-arsitek, Gropius dari tahun 1919-1927, Hannes Meyer dari tahun 1927 – 1930, dan Ludwig Mies van der Rohe dari tahun 1930 – 1933, ini adalah tahun terakhir dimana kemudian sekolah ini ditutup pada masa Rezim Nazi di Jerman.
Jasa Bauhaus terbesar adalah: menciptakan metode pendidikan seni rupa, desain, kriya dan arsitektur yang terpadu, memberi bentuk yang lebih jelas mengenai apa dan bagaimana desain modern (yang kemudian dikenal dengan nama “international style”).
Tokoh-tokohnya: Josef Albers, Hinnerk Scheper, Georg Muche, László Moholy-Nagy, Herbert Bayer, Joost Schmidt, Walter Gropius, Marcel Breuer, Vassily Kandinsky, Paul Klee, Lyonel Feininger, Gunta Stölzl and Oskar Schlemmer.
Sekolah Bauhaus penggabungan dari Grand Ducal School of Arts and Craft dan Weimar Academy of Fine Art. Akar ini terdapat dalam sekolah seni dan kriya yang ditemukan oleh Grand Duke of Saxe-Weimar-Eisenach pada tahun 1906 dan dipimpin oleh arsitek Art Nouveau Belgia, Henry van de Velde. Sewaktu van de Velde dipaksa untuk mundur pada tahun 1915 karena ia seorang Belgian, ia menyarankan Gropius, Hermann Obrist, dan August Endell untuk terus menjadi pelopor. Pada tahun 1919, setelah penundaan diakibatkan oleh kehancuran dari Perang Dunia I dan panjanganya perdebatan mengenai ideological dan rekonsiliasi sosio-ekonomi dari seni murni dan seni yang diterapkan, Gropius membuat seorang pemimpin sebuah institusi integrasi baru yang disebut dengan Bauhaus.
Karya Bauhaus:


Marcel Breuer in the Wassily chair/ Constance L. Breuer

Marcel Breuer, ‘Model B32′ chair, 1928.
Konstruktivizm
Konstruktivizm adalah gerakan kesenian dan arsitektur di Rusia dari 1919 dan seterusnya yang membubarkan seni murni, digantikan dengan kesenian yang memiliki tujuan mendukung kehidupan sosial, terutama pembentukan sistem sosialisme.
Konstruktivizm pertama kali di buat di Russia pada tahun 1913 ketika pemahat berkebangsaan Rusia, Vladimir Tatlin dalam perjalanannya menuju Paris menemukan hasil hasil kerja Picasso dan Braque.
Konstruktivizm merupakan kesenian resmi pemerintahan Bolshevik. Aktif hingga berakhir sekitar tahun 1934, memiliki dampak yang besar dalam perkembangan seni di Republik Weimar dan lain-lain, sebelum digantikan oleh realism sosialis.
Seni konstruktivizm ditandai oleh bentuk abstrak yang total dan penerimaan terhadap modernisasi sepenuhnya. Kebanyakan bentuknya sangat geometris, biasanya bersifat eksperimental, jarang bersifat emosional. Bentuk yang objektif lebih ditonjolkan daripada yang subjektif dari sudut pandang si seniman sendiri. Karya seninya juga sangat minimalis, banyak yang menggunakan bentuk-bentuk dasar.
Yang menyebarkan aliran ini keluar dari Rusia adalah tokoh-tokohnya. Naum Gabo, Antoine Pevsner, dan El Lissitzky membawa aliran ini ke amerika. Laszlo Moholy-Nagy datang ke Jerman dari Hungaria.
Contoh Constructvism:

Monument to the Third International, Vladimir Tatlin

Digital recreation by Takehiko Nagakura.
Nagakura dan timnya menggunakan software komputer untuk
membuat bangunan yang tidak pernah dibangun.
Februari 26, 2009
Stefan Sagmeister: Yes, design can make you happy
Stefan Sagmeister
Stefan Sagmeister adalah seorang desainer grafis dan juga seorang tipografer yang lahir di Bregenz, Austria pada tahun 1962 dan kini tinggal di New York, Amerika Serikat dan membuka sebuah firma desain, Sagmeister Inc. Ia pernah mendesain sampul album dari banyak musisi ternama antara lain Lou Reed, the Rolling Stones, David Byrne, Aerosmith ,dan Pat Metheny.
Sagmeister mempelajari desain grafis di University of Applied Arts Vienna, Austria dan menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya di Pratt Institute di New York. Ia memulai karirnya ketika berusia 15 tahun dalam majalah remaja Austria bernama Alphorn. Pada tahun 1991, ia pindah ke Hong Kong untuk bekerja di Leo Burnett’s Hong Kong Design Group. Pada 1993, ia kembali ke New York dan bekerja pada firma Tibor Kalman’s M&Co namun tak lama kemudia ia pindah ke Benetton Group di Roma, Italia. Stefan Sagmeister kemudian mendirikan Sagmeister Inc. pada tahun 1993 yang juga mempekerjakan para desainer antara lain Woodtli, Hjalti Karlsson ,dan Jan Wilker.
Stefan Sagmeister pernah mengerjakan desain untuk klien-klien besar, antara lain The Rolling Stones, HBO, Guggenheim Museum, Time Warner, juga musisi David Byrne dan Lou Reed. Seigmaster Inc. pernah mengadakan pameran tunggal di berbagai kota besar di seluruh dunia, antara lain Zurich, Vienna, New York, Berlin, Osaka, Prague, Cologne, dan Seoul. Stefan Seigmaster juga mengajar di aneka tempat, misalnya School of Visual Art di New York dan mendapatkan tempat kehormatan Frank Stanton Chair di Cooper Union School of Art, New York. Ia pernah muncul dalam film documenter “Helvetica” yang membahas font paling sering digunakan di dunia tersebut di mana ia pada sebuah frame memperlihatkan torehan luka yang dibuat membentuk aneka huruf tipografi di sekujur tubuhnya yang diabadikannya dalam bentuk foto poster.
Pria dengan motto “Design that needed guts from the creator and still carries the ghost of these guts in the final execution” ini pernah menerima berbagai penghargaan Grammy Award 2005 dalam kategori Kemasan Kotak Album Edisi Terbatas Terbaik. Karyanya yang menghiasi buku-buku desain terkemuka saat ini juga mendesain beberapa cover album seperti Rolling Stones, David Byrne, Lou Reed, Aerosmith dan Pat Matheny, yang membawanya 4 kali menjadi nominator Grammy Award. Pria dengan tinggi dua meter yang gemar berpenampilan sederhana seperti memakai kaos dan celana jeans ini diakui kemampuannya oleh sesama desainer, misalnya tipografer Steve Leadbetter yang mengatakan bahwa tangan dinginnya mampu menunjukkan “apa itu wujud rupa dari suatu bahasa”.
Untuk beberapa lamanya Stefan Sagmeister meninggalkan sejenak pekerjaannya dan berdiam di Bali untuk lebih mengenal kebudayaan dan kultur masyarakat Pulau Dewata tersebut. Ia berbagi pengalamannya di Ubud Rotary Club mengenai pengalaman-pengalamannya. Pria yang terkenal dengan motto “Bring Happiness to Life”, “Happy with Designing”, dan “Everything I Do Will Comes Back to Me” ini saat ditanya mengenai apa hal yang sejauh ini dipelajarinya di Bali menjawab, “Saat anjing mengepungmu, membungkuklah, lalu pungut sebuah batu”.
Komentar :
Stefan Sagmeister adalah salah seorang salah seorang desainer ternama sekaligus terkenal di dunia. Ia sangat kreatif dan sering menggunakan aneka benda yang mudah ditemui di sekitarnya untuk mengungkapkan ide yang meluap dari kepalanya. Di samping sifat nyeleneh dan eksentriknya, ia sering menciptakan karya-karya yang unik dan inspiratif juga aneka ungkapan dan motto yang memilki makna yang sangat dalam. Banyak aneka karyanya yang unik juga inspiratif misalnya sticker petunjuk di kereta api yang bernuansa humor namun sesuai pada kenyataan di masyarakat maupun yang menunjukkan luapan gejolak seninya lewat torehan luka membentuk aneka huruf tipografi di sekujur tubuhnya. Ia menunjukkan bahwa seni dan desain memiliki kemungkinan cara pengungkapan yang nyaris tak mengenal batas.
Sinopsis Film Pendek Stefan Sagmeister
Film pendek yang berisikan mengenai seminar desain yang diadakan oleh Stefan Sagmeister ini mengungkapkan pola pikir dan cara Sagmeister memandang sesuatu. Salah satu desainer terbaik di dunia saat ini membagikan beberapa dari kisah dan pengalaman hidupnya. Ia juga mengungkapkan gagasan “Happy with Designing” yang membuatnya mampu merangsang ide kreatif dalam benaknya sehingga dapat membuatnya memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda dan unik, namun tetap dapat menemukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Misalnya penggarapan stiker petunjuk pada kereta, tidak perlu dibuat secara konvensional dan membosankan, namun dapat diolah menjadi hal yang unik, eye catching, kreatif, menginspirasi, dan tetap bermanfaat seperti contoh stiker petunjuk kereta rancangan Stefan Sagmeister seperti di bawah ini ;

Selain itu, Ia juga membuat suatu gagasan menempelkan balon kata kosong yang ia isi sendiri pada aneka hasil cetak yang biasa kita temui, misalnya logo produk, halaman majalah, poster, dan sebagainya yang kemudian Ia isi dengan aneka kata-kata dan pernyataan-pernyataan yang unik dan mengundang tawa. Hal-hal sederhana nan unik seperti itu mampu merangsang ide kreatif kita dan membuat kita dapat memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ia juga menunjukkan daya kreatifitasnya dalam memanfaatkan benda-benda yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan gagasannya, kata demi kata, baik dalam susunan benda maupun komposisinya – bahkan setiap aspek yang meliputi benda tersebut. Dalam film ini Stefan Sagmeister menekankan pentingnya kesenangan dan rasa menikmati dalam apa yang kita lakukan, terutama dalam hal mendesain. Ia juga menekankan “Bring Happiness to Life” yang menekankan pentingnya kesenangan itu dibawa dalam kehidupan terutama dalam hal yang digeluti atau disukai sehingga hidup lebih berwarna sehingga kita dapat menikmati hidup kita dan melakukan banyak hal baru dan bermanfaat.
Kelompok Tinjauan Desain DKV-C:
-Yuliana Selfia (625070147)
-Inggrid R.H (625070153)
-Lucyana Budiman (625070180)
-William Susanto (625070172)
-Octavianus (625070177)
-Thomas Edison (625070171)
-Nikolas (625070179)
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!